November 10, 2011

Lintas Gunung Lompobattang - Bulu Baria

Desember 2010, Entahlah pendakianku ke gunung lompobattang  kali ini adalah yang keberapa kalinya. Empat lima ataukah yang  keenam kalinya saya sendiri juga sudah lupa-lupa ingat. Tapi yang pasti tujuan kami tidak hanya sampai dipuncak tetapi mencoba menembus dua gunung yaitu puncak Lompobattang-Bulu (baca : gunung) Baria hingga tembus di daerah perkampungan Majannang. Mencoba jalur baru tantangan baru Itulah alasanku mengapa saya melakukan pendakian ini.

Bersama tiga orang teman dari Unhas dan satu orang dari Palu. Setelah packing semua barang barulah kami star dari kampus Unhas menggunakan angkutan pete-pete menuju terminal Malengkeri. Dari sini kami mulai cari tumpangan gratis naik truk ganti lagi dengan truk lainnya hingga sampai pada daerah Malakaji. Menginap di rumah Tata Juma yang juga merupakan basecamp SAR Unhas. Tampak di depan rumah tertulis Base Camp SAR Unhas “persiapkan fisik, mental dan perlengkapan anda” kata-kata ini yang selalu jadi peganganku jika akan melakukan kegiatan petualangan. Tempat  ini tidak asing lagi bagiku karena tiap kali naik gunung lompobattang bersama teman dari SAR pasti bermalam disini. Kehadiran kami berlima disambut hangat oleh tata sekeluarga. Keesokan pagi, setelah berdo’a kami berpamitan pada tuan rumah untuk melanjutkan perjalanan.
    
Pos satu dan dua adalah sumber air terakhir sebelum pos Sembilan. Maka dari itu kami sempatkan waktu untuk makan siang di pos dua. Jalur pendakian ke puncak buat saya pribadi lumayan butuh fisik yang prima. Dari pos satu hingga puncak kita akan melewati  hutan-hutan lumut serta tanjakan-tanjakan terjal mulai dari 45 derajat dan bahkan ada yang 90 derajat dimana kiri kanannya jurang biasa juga disebut pintu angin. Mendirikan tenda dan camp di pos sembilan. Sore itu, matahari tenggelam indah sekali tentu saja kami berlima tidak akan melewatkan momen itu sungguh pemandangan yang jarang sekali dialami oleh orang banyak.
Triangulasi
Pagi harinya perjalanan kami lanjutkan menuju puncak. Sempat mengabadikan diri dengan berfoto bersama dititik triangulasi. Dari pos sepuluh menuju Ko’bange disini terdapat tumpukan batu-batu pada area datar dan luas. Koba’nge merupakan tempat ritual warga yang melakukan shalat pada bulan haji atau idul adha. Memang masih ada kepercayaan sebagian warga yang melakukan ritual seperti itu. Fakta dari beberapa Siaga insidentil SAR Unhas baik gunung lompobattang atau bawakaraeng saya temui masih ada warga yang melakukan ritual-ritual diatas sana.

Dari ko’bange menuju Bulu Baria. Jalur  dan medan yang kami lewati luar biasa, menuruni dan memanjat tebing terjal dan tidak jarang kami harus menggunakan tali webbing. Hari keempat kami sempat kehabisan air dan terpaksa harus ngecamp pada bidang yang miring karena tidak ada tempat yang datar. Saat itu persediaan air hanya cukup untuk dua gelas kopi untuk kami berlima. Tapi itulah nikmatnya kebersamaan, kami menikmatinya.

Hari kelima, kami sudah menapakkan kaki di triangulasi Bulu Baria. Kondisi saat itu tertutup kabut tebal dan sesekali kami melihat puncak bawakaraeng walau kemudian tertutup lagi. Perjalanan kami akhirnya sampai juga pada daerah perkampungan Majannang dengan selamat. Akhirnya kembali ke Makassar dengan membawa cerita untuk berbagi dengan orang-orang yang selalu merindukan triangulasi….!!!

Saran :
*) Jika ada teman-teman yang akan melakukan pendakian lintas Lompobattang-bulu Baria. Sebaiknya membawa tali webbing yang cukup serta bisa memaneg persediaan air dari pos Sembilan lompobattang hingga pos tiga Majannang.

*) Hanya Tulisan singkat. jika ada yang ingin mengetahui lebih jauh silahkan kirimkan pertanyaan ke email saya. Terimakasih.



Camp di Teras 9 Gn. Lompobattang


Ko'bange


Puncak Bulu Baria

- La Hida, Catatan Perjalanan diakhir Tahun 2010

2 comments:

TERPOPULER BULAN INI