February 11, 2018

Merayakan se-Tahun Mengunjungi Kampoeng Inggris. Sebuah Refleksi!

Seusai Jumatan di Annur Mosque berpose di depan Peace Course
...belajar tak mengenal usia. belajar bisa dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja. so dont be shy!

Perkenankan saya membuka kembali catatan yang tersimpan dalam daypack Deuther milik saya. Mencoba mengisahkan jejak sepatu gunung saya disini dalam shaf-shaf tegak lurus agar abadi dan terkenang. Mengapa saya menyebut sepatu gunung (baca : sepatu lapangan) karena ia adalah teman setia ketika hendak kemana-mana. Saya tak ingin apa yang terekam di sel-sel otak saya terhapus begitu saja serupa senja yang selalu buru-buru pergi. Sebab kenangan tentang kampoeng inggris adalah unik dan cerita yang tak pernah berakhir. Oh, iya ini adalah setahun lalu saya mengembara ke barat indonesia. Sendiri tentu saja, itu lebih nikmat! Jadi berjalan jauhlah jika kau masih lajang dan nikmatilah setiap persinggahanmu.


Hari itu 6 februari 2017 laut di Tomia, Wakatobi sedang kurang bersahabat. Ombak dan angin barat sedang mengamuk akibatnya kapal yang rutin berlayar langsung ke tanah buton bau-bau tak berani mengambil resiko. Maka alternatif lainnya adalah mencoba melalui penyebrangan lewat Wanci. Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan saya mengambil rute kapal wanci-lasalimu setelah itu barulah menumpangi mobil panther menuju baubau. 

Start dari Baubau-Makassar-Surabaya itu rute perjalanan laut selanjutnya dengan menggunankan moda transportasi Pelni, durasi yang dibutuhkan dua hari dua malam saya sudah menancapkan kaki di tanah javi, tepatnya jawa timur. Hari itu, target perjalanan saya adalah tiba di kampoeng inggris Pare sebelum langit gelap. Namun, rencana berubah total. Penyebabnya adalah karena masih ada kapal lain yang bersandar di pelabuhan surabaya maka kapal pelni yang saya tumpangi harus menunggu dan barulah diizinkan bersandar ketika siang hari. Nah, dari pelabuhan saya lalu mengambil rute ke terminal Bungurasih dengan bus kota dan tiba disana tatkala hari telah sore.

Dari terminal Bungurasih saya mencari bus tujuan pare lalu naik mencari kursi kosong. Sialnya di tengah perjalanan saya diberitahu oleh keneknya bahwa saya telah salah mengambil jurusan sebab bus tersebut menuju Kediri bukan Pare. Alhasil saya terpaksa turun di daerah Jombang lalu menggunakan jasa ojek hingga ke pare. Seingat saya, malam itu jalanan di pare sudah sepi dan office peace, tempat kursus yang akan saya masuki sudah tertutup. Rencanya saya akan melakukan registrasi terlebih dahulu. Akhirnya saya mencoba mencari campnya dan bertemulah tutornya, saya lalu di arahkan untuk menempati satu kamar yang juga sudah diisi oleh tiga orang asal makassar, bekasi dan tulungagung yang kemudian mereka menjadi room mate saya. Barangkali itu sekilas perjalanan saya menuju Pare. Cukup romantis bukan!

***

Beberapa hari sebelum memutuskan menyambangi Pare terlebih dahulu saya sudah melakukan riset. Itu kebiasaan saya jika melakukan perjalanan kesuatu tempat yang baru. yeah mencari infonya di internet dan bertanya pada beberapa teman yang sudah kesana. Itu penting, saya tak pernah mengesampingkan gambaran awal medan yang akan saya datangi. Seorang pejalan tahu hal itu bahwa perlu memahami & membekali diri dengan ilmu Manajemen perjalanan walau kadang kenyataan dilapangan tak sesuai planning.

Sejatinya catatan tentang kampoeng inggris saya sudah menayangkannya di halaman blog ini pada berapa bulan lalu. Namun untuk merayakan setahun perjalanan tersebut saya mencoba kembali bernostalgia dan mengenang-ngenang kenangan yang masih tersisa di sel otak saya. Selain itu, mencoba merefleksi dan mengevaluasi kemampuan bahasa inggris saya hari ini, semacam pemantik mungkin untuk apa saya ke pare. Alasan lainnya adalah saya ingin kembali aktif melatih jari-jemari saya menari-nari diatas tuts keyboard komputer jinjing milik saya. sebab Blog ini, tempat dan medium bagi saya berceloteh serupa telah mengalami mati suri selama setahun terakhir.

Tiba di pare modal bahasa inggris saya adalah nol besar. Bagaimana tidak, sebelumnya diri ini tidak pernah menyukai yang namanya bahasa mendunia tersebut. Mengatakan saya mencintai seorang gadis pujaan saja tidak memiliki keberanian karena takut salah atau diketawakan.  Menulis sesuatu hal bernada inggris dalam media sosial saya tak pernah lakukan, lagi-lagi karena takut salah. Sungguh tidak paham sesuatu itu tidak menyenangkan sebab akan dibayangi rasa salah. hehe!! Maka dari itu menyambangi pare sebagai tempat famous dan dengan atmosfir lingkungan yang mendukung untuk berani jatuh cinta pada hal baru bernama english adalah tepat adanya.

Sebulan pertama merupakan masa beradaptasi. Saya menikmati setiap proses itu, sooner or later jika diulangi akan paham juga. Terkadang berapa program saya ambil ulang dengan maksud agar lebih mengerti. Beberapa lembaga kursus saya masuki untuk mengetahui rasa dan metode yang berbeda. Saya mulai belajar dari hal yang paling basic hingga mengambil program yang saya anggap menantang untuk diri pribadi. Tiga bulan bagi pemula seperti diri ini rasanya tidak cukup. Terus terang, saya selalu cemburu pada berapa teman saya disana yang menghabiskan berbulan-bulan waktunya untuk meningkatkan kemampuan englishnya. itu luar biasa. Terkadang mereka mengajak dan menggoda saya untuk kembali lagi ke pare, sayangnya Tomia adalah daerah yang jauh dengan pare. Umpama dekat saya akan kesana setiap bulan. Sungguh!

Tiap lembaga kursus yang saya ikuti memiliki gaya yang berbeda beda. Saya selalu menyukai hal itu. Siswa akan diajak untuk berbicara atau berdiskusi dengan topik-topik yang menarik. Confidence coba dibentuk perlahan-lahan. Bahkan di suruh untuk melakukan interview di jalan-jalan pare pada tiap orang yang dijumpai. Atau terkadang saya harus menyetor hafalan vocabulary atau tugas mengarang yang berbahasa inggris. Saya juga mengambil kelas private. Sekali lagi saya menyukai itu semua.

Segala hal tentang kampoeng inggris saya sukai. atmosfir amat cocok untuk belajar, di jalanan atau di warung makan bahkan di cafe menjumpai seseoarang kita dapat membuat percakapan berbau english. Tak perlu mider karena mereka tak akan menertawai atau mencela, barangkali mereka menganggap bahwa pare adalah sebenar-benarnya tempat orang-orang untuk belajar. Bahkan melihat seseorang berdiri di pinggir jalan lalu berteriak-teriak dengan lantang menggunakan pengeras suara adalah hal biasa di kampung yang manshur tersebut. Bagi yang ingin belajar bahasa inggris cobalah menyelami kehiduapan kampoeng inggris saya yakin kalian akan jatuh cinta.

ya! itu cerita setahun lalu mengenai perkenalan dan sekilas cerita saya dengan kampoeng yang unik tersebut. Lantas bagaimana dengan kemampuan english saya hari ini. Itu merupakan pertanyaan paling mendasar dari celoteh minim makna dalam halaman ini. Oh, I think my english just so so. i must struggle and study hard again. yeah sooner or later oneday i can be the master of english. I believe it. Barangkali metode dan tehnik belajar saya hari ini harus mengalami sedikit improvisasi. Beberapa teman selalu siap membantu, sungguh menyenangkan berada diantara orang-orang berjiwa mulia. Puji Syukur tak terhingga.!

***

Akhir kata, perjalanan selalu mengajarkan banyak hal baru. Melihat dan merekam hal baru, bertemu wajah-wajah baru dari beragam lapis masyarakat. Mereka berasal dari berbagai sudut indonesia dengan kemajemukannya lalu di pertemukan di kampoeng inggris, Pare. Menyambangi Pare membuat saya semakin jatuh cinta pada bahasa inggris. walaupun hari ini my english not well. Saya hanya butuh belajar lebih gemar lagi dan tetap konsisten pada hal yang telah saya putuskan cintai. Itu adalah kebiasaan saya yang tak banyak orang pahami. 

- Merindukan kampoeng Inggris. Pulau Tomia, 11 februari 2018





Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

TERPOPULER BULAN INI