December 09, 2014

Bulu Baria! Puncak & Keindahan Yang Terlupa


Dok. Ormed Sar Unhas

Bulu Baria (2658 Mdpl) adalah puncak lain pada kawasan taman nasional pegunungan Lompobattang Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Namun puncak ini seolah terlupa bagi para penikmat ketinggian atau bahkan tak terlalu memikat hati mereka yang mencandui kabut abadi nan romantis. Tak setenar Bawakaraeng, Lompobattang atau Lembah Ramma serta triangulasi pada puncak lainnya yang tiap akhir pekan selalu sesak dikunjungi oleh khalayak ramai. Dari Puncak Tallung (Ramma) puncak bulu baria terlihat jelas di arah kanan saat berdiri sedang bawakareng berada pada sebelah kiri.

Hal yang saya ingin deskripsikan bahwa triangulasinya hanyalah tumpukan-susunan beberapa batu setinggi kurang dari empat puluh sentimeter. Disekitar tempat ini lumayan luas untuk membuat camp namun arealnya terbuka sebab tak banyak pohon yang bisa melindungi tenda-tenda. Maka sewaktu-waktu angin bisa saja meniup kencang. Bercamp disini berarti tidur dan menghabiskan malam di pinggir tebing-patahan yang memisahkannya dengan puncak Bawakareng.

Dari puncak bulu baria kita akan melihat puncak bawakaraeng seakan-akan tepat berada di depan mata, sangat dekat yang terkadang tertutup tirai bernama kabut. Tatkala sore telah datang maka menikmati parade senja adalah kenikmatan yang amat tiada tara. Gulungan awan serupa lautan nan teduh dan matahari jingga sangatlah memesona.  Tak ada pemandangan yang bisa menentramkan hati dan jiwa selain mencumbui keagungan semesta dan ihwal itu akan dijumpai di atas puncak-puncak gunung.

Dok, pribadi

Secara administrasi gunung ini berada pada desa majannang kecamatan perigi kabupaten gowa. Akses untuk mencapai puncaknya bisa langsung melalui Desa Majannang atau bisa melakukan perjalanan lintas misal dari dusun Parambintolo-Malakaji Kabupaten Gowa atau dari daerah Lannying kab. Bantaeng untuk melakukan trakking menuju puncak Lompobattang.

Jika traking dilakukan melalui daerah majannang akan sedikit menantang sebab jalurnya yang panjang nan menanjak. Sebelumnya tapak-tapak kaki akan menyusuri jalanan pengerasan yang melalui perkampungan. Orang-orang bukit di sini sangat ramah melempar senyum hangat dari wajah tulusnya bahkan tak sungkan menawarkan kami untuk singgah dan mencicipi kopi di rumah panggung milik mereka. Oh. iya pada berapa kali melewati daerah ini pak desa dan pak rt serta kepala sekolah dasar yang ada pada desa disini amat baik pada kami dengan menginap di rumahnya. Sungguh, inilah kemewahan dalam setiap perjalanan yang dijumpai di perkampungan kaki gunung yang bahkan sangat jarang di dapati di perkotaan hari ini.

Saya hampir lupa bahwa tumbuhan kopi di daerah ini sangatlah dominan nampak pohonnya berukuran tinggi dan jalanan pun dibuat rimbun oleh tanaman kopi tadi. Petani atau warga di daerah ini menaruh harapan hidup pada butir kopi selain sayur mayur. Hal yang sangat kontras pada pembangunan deaerah ini yakni jalanannya yang masih pengerasan serta tak ada listrik negara yang menerangi perkampungan saat malam hari. 

Setelah melewati jalan pengerasan selanjutnya akan menyusuri saluran irigasi yang berfungsi untuk mengaliri ladang-ladang pertanian warga. Sumber air terakhir hanya ada pada pos tiga selebihnya sudah tak ada lagi. Maka dari itu kemampuan memaneg air sangat dibutuhkan dalam perjalanan menuju puncak bulu baria. Dalam perjalanan jika beruntung akan menjumpai kera atau bahkan menemukan buah kalpataru, yakni buah yang dihasilkan dari pohoh pengharapan. Waktu tempuh menuju triangulasi bulu baria bisa memakan waktu seharian dengan teknik berjalan normal atau dengan langkah santai.

Sedang atau jika melalui rute-jalur Puncak lompobattang adalah menyusurinya hingga ko'bage. dari sini mengambil jalur arah kanan. Dari sini tak terlalu jauh, puncak bulu baria bisa ditempuh dengan waktu empat hingga lima jam. Jalur yang akan dilalui adalah dengan menyusuri punggungan. Namun tanda-tanda semisal stringline tak terlalu jelas jadi sebaiknya membawa peta dengan sesekali melakukan orientasi serta sesekali menyesuaikannya dengan rencana jalur yang telah dibuat sebelumnya.

Pada beberapa titik akan dilewati jalur menurun yang terjal serta jalur mendaki yang menantang. Nah, setelah itu barulah puncak bulu baria akan terlihat. Sebuah keharusan untuk mendirikan camp dan menghabiskan atau menikmati malam pada puncaknya. Menyeruput kopi dan tembakau akan menambah cerita tentang keindahan gunung ini.

***
Ada beberapa hal hebat jika melakukan perjalanan lintas melalui puncak bulu baria adalah gunungnya masih asri sehingga sangat jarang diketemukan sampah-sampah yang berserakan pada sepanjang jalur perjalanan. Selanjutnya menikmati sore hari disini sangatlah istimewa sebab lautan awannya serupa lukisan yang tak mungkin dilampaui oleh imajinasi seorang pelukis manapun sebab inilah karya agung sang pemilik semesta. Pun tatkala sore hari kita bisa menyaksikan view bawakaraeng dengan sangat jelas nan memukau. serta kabutnya yang selalu menggoda serta akan mengetuk-ketuk pintu jiwa agar selalu kembali kesana untuk mencumbuinya.

Lantas mengapa hanya puncak bawakaraeng atau puncak lompobattang serta lembah ramma saja yang kita datangi. Sekali-kali cobalah mengunjungi bulu baria, agar tak menjadi puncak yang terlupa dengan segala pesona dan keindahannya yang dimilikinya! (Avignam)

3 comments:

  1. 2x saya pernah mampir ke rumah sodara istri saya di Kab. Gowa
    masih sangat asri dan sejuk
    pokoknya keren dah! mantab!

    ReplyDelete
    Replies
    1. bang, tapi sempatkan jalan2 mengunjungi tempt2 wisata di makassar...??

      Delete

TERPOPULER BULAN INI