March 29, 2014

Menjadi Pendaki Gunung Yang Bijak. Mari Membawa Sampah Turun!


"Mestinya pendaki  gunung selalu memegang teguh ungkapan : dilarang membunuh apapun selain waktu, dilarang mengambil apapun selain gambar, dilarang meninggalkan apapun selain jejak kaki"

Bumi Indonesia adalah surga keindahan. Pemilik Alam Semesta menganugerahkan hamparan belantara nan hijau, sungai bergemercik merdu, lautan biru dengan pasir putih dan eksotika bawah lautnya, amat kaya akan gua-gua karst serta dipenuhi dengan gunung-gunung yang menjulang. Kesemuanya itu untuk dinikmati dan dimanfaatkan namun yang lebih penting harus dijaga kelestariannya untuk kehidupan yang lebih seimbang. Sebab bentuk kewajiban manusia sebagai penghuni jagat adalah menjaga anugerah titipan Tuhan tersebut.

Beberapa tahun terakhir ini, dunia petualangan di tanah air amat  di gandrungi oleh khalayak ramai. Hal ini juga didukung dengan menjamurnya toko outdoor yang menjajakan berbagai macam perlengkapan petualangan. Begitupun dengan film-film yang mengangkat keindahan alam dan lingkungan nusantara yang kaya raya. Lalu mereka ingin menikmati dan melihat surga keindahan yang dimiliki oleh bumi pertiwi ini. Ada yang menyimpan obsesi-obsesi di dadanya serta hasrat yang menggebu-gebu akan hal itu. Barangkali juga benar ungkapan dengan mengunjungi semua tempat dan melihatnya secara dekat maka akan menumbuhkan kecintaan seseorang akan Indonesia. Maka nasionalisme akan terus tumbuh dan tersemai di jiwa orang tersebut.

Namun seiring dengan hal itu, permasalahan pun muncul dimana lingkungan mulanya asri kini menjadi terganggu termasuk terusiknya kehidupan makhluk hidup yang mendiami wilayah-wilayah yang di datangi. Hamparan gunung di Indonesia adalah tempat yang paling di sukai oleh banyak orang sebab di puncak sana seseorang akan menemukan kekaguman yang luar biasa akan maha karya agung sang pencipta semesta. Puncak gunung menyuguhkan keindahan juga seseorang akan menjumpai kabut keabadian dan tiupan anginnya adalah nyayian kebebasan.

Hal yang patut disayangkan sebagai akibat dari aktifitas pendakian gunung yakni semakin gampangnya sampah dijumpai di atas gunung sana. Pada bagian jalur pendakian dan tempat yang biasa dijadikan  camp tenda-tenda para pendaki  maka disitu pula  dengan mudah akan diketemukan sampah-sampah yang menumpuk dan bertebaran. Sungguh pemandangan yang tak elok dan tak mengenakkan bagi pasangan mata yang memandangnya.

Pos 9 G. Bawakaraeng, Sulsel (dok. pribadi)
Hari ini sahabat blogger bisa melihat apa yang terjadi dengan kondisi kekinian wajah gunung di Indonesia, misal Gunung Bawakaraeng sebagai tempat favorit para penikmat alam di wilayah Sulawesi Selatan. Gunung yang juga dikeramatkan oleh penduduk setempat, kini wajahnya tak elok lagi sebab sampah dengan gampang bisa didapati pada sepanjang jalur pendakian terlebih pada lokasi tempat persinggahan atau biasa para pendaki menamakannya pos. Mulai dari beragam warna sampah plastik, puntung rokok, bungkusan mie instant dan kopi, berbagai macam kaleng atau botol hingga sisa tali yang masih menggantung di pohon. Berbagai merek produk yang di bawa para pendaki akan di jumpai di gunung sana. Yah, tentunya itu merupakan sampah yang lupa dibawa turun oleh pemiliknya.

Barangkali tak hanya gunung di bagian Sulawesi Selatan saja. Di daerah lain Indonesia juga sampah telah menjadi masalah yang utama bagi lingkungan dan perlu mendapatkan perhatian serta penanganan serius bagi siapa saja terlebih hal ini harus di sematkan kepada para pendaki gunung. Karena hanya merekalah yang melakukan aktifitas petualangan di atas gunung. Contoh lain yang bisa dilihat adalah sampah juga menjadi permasalahan serius di gunung Semeru, Jawa Timur. Gunung Semeru merupakan atap tertinggi Pulau Jawa yang menyuguhkan pemandangan amat indah sehingga wajar saja menjadi destinasi wajib bagi setiap orang untuk berbondong-bondong menjejakkan kaki disana. Termasuk sebagian jumlah gunung yang sering dijamah oleh manusia/pendaki maka sampah akan bertebaran disana.

Tumpukan sampah di Ranukumbolo G. Semeru  (wisatagunug.com)
Tak bisa dinafikan bahwa sampah telah menjadi masalah yang mengotori keindahan kawasan pegunungan di Indonesia. Semakin banyak orang yang mendaki gunung maka volume sampah akan bertambah pula. Selain menyebabkan lingkungan menjadi kotor, dampak lain dari sampah adalah akan merusak struktur tanah karena susah hancur secara alami.  Sampah akan sulit terurai oleh mikroorganisme dalam tanah hingga memerlukan waktu 240 tahun lamanya. Merupakan jenjang waktu yang amat lama, bukan?

Bukan hanya itu saja ada hal lain yang mengotori keindahan alam gunung di Indonesia yaitu adanya aksi vandalisme menuliskan nama seseorang dengan mencoret-coreti batang pohon atau batuan menggunakan cat atau belati. Entah bermaksud mengatakan kepada semua orang bahwa ia pernah kesitu lalu melukiskan namanya. Jika batang pohon dan batuan tersebut bisa mengeluarkan suara pastinya akan merintih kesakitan lalu mengadu pada Penguasa Alam Raya ini. Sungguh, suatu aksi yang tak peduli terhadap keindahan dan pelestarian lingkungan terlebih aksi itu harus memetik tumbuhan langka yang hidup di gunung seperti bunga abadi, Edelweis.  Alangkah baiknya jika bentuk kekaguman seperti itu di tuliskan dalam catatan perjalanan atau dalam bentuk puisi bahwa kita pernah menjejakkan kaki di tempat itu.

Masalah-masalah yang ditimbulkan dari aktifitas petualangan adalah tak semuanya dilakukan oleh mayoritas pendaki gunung namun hanya segelintir oknum yang tak bertanggung jawab. Kepada mereka yang tak mengindahkan kelestarian lingkungan akan semena-mena membuang sampahnya di atas gunung atau bagi tangan-tangan jahil yang melakukan aksi vandalismelah yang mengotori keindahan alam. Dan hanya pada pribadi yang memiliki kesadaran di palung terdalam hatinya akan membawa pulang sampah makanan yang telah ia bawa. Maka layaklah disematkan kepadanya sebagai pendaki yang bijak. Baginyalah disebut pejuang kebersihan.

Jika setiap jiwa memiliki kesadaran yang tinggi terhadap lingkungan bersih dan lestari maka semestinya berapapun bungkusan ransum yang dibawa selama kegiatan petualangan harus pula dibawa pulang dengan jumlah yang sama. Dalam hal serta jenis petualangan apapun, kesadaran terhadap pelestarian lingkungan adalah utama agar kehidupan makhluk hidup terus berjalan seimbang. Dimanapun berada masalah sampah haruslah dimulai dari diri pribadi seseorang, rumahnya barulah lingkungan yang lebih luas lagi. Bukankah keindahan serta kebersihan selalu melahirkan sesuatu yang menyehatkan. 

Tak ada yang terlambat untuk upaya pelestarian lingkungan. Maka mulai hari ini kepada setiap orang yang melakukan pendakian marilah menanamkan dalam dirinya akan pentingnya kesadaran lingkungan. Ketika mendaki gunung wajib membawa pulang sampah sendiri serta alangkah mulianya memungut sampah yang juga ditinggalkan oleh orang lain. Serta saling menegur dengan tutur kata yang sopan ketika mendapati orang yang acuh tak acuh membuang sampah sembarangan misalkan puntung rokok, bungkusan makanan atau lainnya. Bukankah seorang pendaki gunung adalah mereka yang menamakan dirinya pecinta alam. Sudah sepatutnya sikap yang dilakukannya mencerminkan dirinya cinta alam dan menghargai lingkungan.

Ramainya pendakian ke gunung harus tetap memperhatikan faktor kelestarian lingkungan yang seimbang serta tak mengotori.  Menumbuh semaikan kesadaran di hati setiap pendaki adalah modal paling utamanya. Selanjutnya upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga alam dan meminimalisir pencemaran lingkungan di gunung adalah menetapkan aturan yang tegas terhadap pentingnya lingkungan yang lestari. Bagi setiap yang melanggar maka harus di beri ganjaran yang tegas sebagai efek jera serta proses pembelajaran bagi yang lainnya. Pihak pengelola kawasan wisata pegunungan di Indonesia bisa mencontoh apa yang diterapkan di Gunung Everest, Tibet.

Tabung pendaki di Gunung Everest sumber http://uniqpost.com
Sebagai gunung tertinggi di dunia Everest, Himalaya menghasilkan sampah rata-rata 50 ton per tahun. Sampah tersebut didominasi sampah tabung oksigen, alat mendaki, tenda, bungkus makanan, bahkan kotoran manusia. Sampah ini dihasilkan tak lain oleh pendaki yang ingin menaklukan Gunung Everest. Untuk menjaga kebersihannya maka para pendaki harus menandatangani peraturan berupa perjanjian plus deposito 2.500 poundsterling agar tidak membuang sampah di puncak gunung. Sumber http://uniqpost.com/

Sejujurnya aturan seperti di atas pernah diterapkan oleh pengelola di beberapa kawasan gunung di Indonesia misalkan saja dengan membatasi jumlah pendaki serta memeriksa jumlah barang bawaan para pendaki dengan tujuan dapat membawanya turun dengan jumlah yang sama banyaknya. Namun hal ini tidaklah efektif serta pihak pengelola selalu kewalahan. Apalagi sebagian gunung di Indonesia tak memiliki petugas khusus untuk mengecek barang para pendaki. Lihat saja kian hari sampah terus   bertambah volumenya, sungguh miris.

Maka kesadaran adalah hal yang paling utama dalam upaya pelestarin lingkungan. Menanamkan sejak dini pelajaran akan pentingnya lingkungan mulai dari TK, SD, SMP, lalu SMA hingga akhirnya akan memanen generasi dengan pribadi yang peduli terhadap alam dan lingkungan yang telah memberi kita kehidupan. Akhirnya, bumi akan tetap lestari.

Pejuang kebersihan (http://www.belantaraindonesia.org/)
***
Apresiasi yang tinggi harus diberikan kepada WWF Indonesia sebagai LSM konservasi alam terbesar dan tertua di Indonesia yang telah memulai kegiatannya sejak tahun 1962. Hingga saat ini, masih tetap konsisten memperjuangkan pentingnya lingkungan bagi kehidupan serta segala upanya pelestariannya. Tentu hal ini sepatutnya diberikan dukungan oleh setiap orang sebab masalah lingkungan adalah tanggung jawab manusia sebagai penghuni jagat. Penghargaan juga harus diberikan kepada blogdetik.com sebagai blog keroyokan terbesar di Indonesia yang terus mendukung upaya mengkampayekan pelestarian lingkungan.

Untuk turut andil dalam kegiatan ini, sebagai seorang pendaki dan blogger, saya ikut pula berkontribusi mengabarkan dan mengkampayekannya melalui tulisan di halaman blog sebagai upaya  meminimalisir volume sampah di gunung sana. Setidaknya saya sering mengajarkan kepada rekan-rekan di komunitas tempat saya menyalurkan kegiatan naik gunung bahwa tiap kali mendaki maka harus pula membawa pulang sampah tersebut. Semoga hal ini adalah satu langka nyata dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan yang sejalan dengan tujuan dan perjuangan WWF Indonesia.


Jika upaya pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab setiap orang terlebih oleh para penguasa sebagai pengambil kebijakan. Semestinya pengelolaan sumber daya alam harus tetap memperhitungkan faktor lingkungan yang berimbang untuk kehidupan generasi selanjutnya. Harusnya tak ada penebangan dan perambahan hutan yang berlebihan atau pembakaran hutan yang tiap tahunnya selalu terjadi. Maka sebuah ungkapan dan pesan  kepada para pemimpin di negeri ini : "Jika ikan terakhir telah ditangkap dan pohon terakhir telah ditebang, manusia akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan".

Tulisan ini disertakan dalam kampanye #ingatlingkungan bersama WWF & blogdetik.com

- Makassar, 30 Maret 2014
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

TERPOPULER BULAN INI