Showing posts with label KOPI. Show all posts
Showing posts with label KOPI. Show all posts

March 24, 2021

Menyeduh Kopi Telur di Puncak Kahianga



Puncak Kahianga merupakan salah satu tempat terbaik di Pulau Tomia ketika hendak menikmati matahari tenggelam sebelum menuju peraduannya atau kebanyakan orang mengenal dengan istilah kerennya sunset. Banyak  pengagum berat senja datang kesini. Tempatnya yang berada di dataran tingggi bisa memanjakan mata melihat sejauh-jauhnya sabana hijau begitupun lautan dengan kapal-kapal yang lalu lalang diantara beberapa pulau. Berada disini akan menjadikan pikiran kita menjadi fresh dan ringan atau bebas.

 

October 12, 2016

Nikmat KOPI REMPAH

Baru saja musim petik buah cengkeh berakhir. Dari tanah Maluku tepatnya dari Pulau Taliabu, saya mendapat kiriman seliter cengkeh kering. Jika ingin menyusuri pulau tersebut maka akan banyak dijumpai orang-orang pulau tukang besi atau wakatobi serta suku buton yang banyak mendiami wilayahnya. Bahkan bahasa daerah wakatobi adalah alat komunikasi sehari-harinya yang digunakan di pulau taliabu. Nah, kebetulan disana ada keluarga sehingga saya dikirimi rempah cengkeh. Terimakasih. 

May 01, 2015

Gadis Cafe & Nikmat Kopi

Ilustrasi Google
Entah apa yang menjadikan cafe ini selalu ramai dikunjungi oleh para kafeinis atau penikmat kopi. Berapa kali saya menemukan tempat ini dipadati orang-orang. Ada yang sekedar berdiskusi, bermain game online, mengerjakan tugas kuliah, berkelana di rimba maya atau ada juga yang bermain domino. Saya amat tak begitu paham apa yang menyebabkannya disukai pengunjung.

February 06, 2015

KOPI JAMBI Hadiah Dari CHE-JINGGA

SEBAGAI SEORANG KAFEINISME, bisa mencici berbagai cita rasa kopi dari seluruh pelosok nusantara adalah suatu kesyukuran tersendiri yang amat tiada tara. Sungguh! Sebab tanah pertiwi dilimpahi kesuburan berbagai jenis kopi terbaik dengan segala rasa yang khas pada tiap daerahnya. Semesta telah baik juga mereka petani kopi yang telah berjasa hingga bisa menghadirkan ke cangkir di atas meja kita. Selayaknyalah ada doa yang harus ditiupkan ke langit untuk para petani itu, barangkali sebagai bentuk penghargaan atas keringat yang mereka curahkan.
                                                 
Kopi Jambi
                                                                         
Kemarin, saya mendapat hadiah berupa kopi jambi asal dataran sumatera. Seorang teman, sebut saja namanya che-jingga memberikan ke saya sebungkus kopi bubuk hitam ukuran 100 gram. Yah, itu lumayan untuk saya habiskan selama seminggu meneguknya. Saya ingin mengatakan bahwa selalu ada keajaiban dan menyenangkan dengan memiliki banyak teman terlebih mereka yang menyukai kopi atau yang mengenal kita sebagai pecinta kopi. percayalah!

                                                                        ***
Meracik kopi bubuk, seperti biasa saya selalu memasaknya dengan air mendidih 100 derajat. Tujuannya agar partikel kopi tersebut bisa masak secara merata, itu formula yang paling umum digunakan dimana-mana. Nah, bagaimana dengan cita rasa kopi jambi jenis robusta ini. Saat menyeruput kopi dari dataran sumatera ini, maka saya menemukan rasa khas dan aroma  yang kuat, dimana rasanya akan tertinggal dan menyengat di lidah selama beberapa menit lamanya. Menurut saya kopi ini juga terbilang istimewa dari kopi lain yang pernah saya minum terlebih harus dibandingkan dengan kopi kemasan, dimana tak bisa disetarakan dalam hal kenikmatannya.

Saya juga menemukan sensasi lain saat  kopi jambi tersebut di ramu menjadi secangkir kopi susu atau kopi capucino. karakter rasanya tetap saja kuat dan cukup nikmat. yah, itu hal yang harus saya akui. Pun ada inprovisasi lain yang biasa saya lakukan untuk mencari kenikmatan-kenikmatan lain dari suatu jenis kopi. Maka Kopi jambi tadi saya mencoba meramunya dengan sepotong kayu manis. Dan hasilnya sungguh luar biasa dengan cita rasanya yang kuat itu lalu bersenyawa dengan rasa-aroma nan khas kayu manis. Saya menemukan kenikmatan lain yang bisa  membangkitkan rohani yang membuncah, semacam peletup semangat mungkin.

Akan tetapi diantara sensasi dan kenikmatan dari secangkir kopi, ada ritual penting yang selalu saya lakukan yaitu mencium/menghirup aromanya, menahannya selama tiga detik, lalu menyeruputnya. Pada titik ini saya membatin dengan bisikan nada kesyukuran kepada pemilik semesta dan petani kopi. Mereka amat baik kepada kita sekalian. Terpuji. Akhirnya, selalu ada sentosa-sentosa dari ritual menyeruput kopi tadi.

- Secangkir kopi jambi dan selinting tembakau, 07/01/15


February 23, 2014

Kopi Hitam & Perempuan Anggun di Burung Besi Garuda

 
Ilustrasi. Foto Google

Lemparan senyum yang merekah dari wajah para perempuan anggun itu serta menyeruput partikel pekat di atas burung besi garuda adalah satu lembaran kisah kenikmatan saat perjalanan menyambangi Tanah Papua Barat.

JANUARI lalu, tepat pada awal penanggalannya saya menyambangi bumi mutiara hitam.  Sungguh perjalanan yang amat mengagumkan saat menginjakan kaki di tanah papua yang tersohor di seantro jagat akan sejuta keunikan budaya dan surga keindahan alamnya itu. Ada banyak orang yang ingin melihat dari dekat segala kekhasan bumi terbekahi ini termasuk saya sendiri. Suatu keberuntungan menghampiri saya sehingga bisa ke sana secara gratis dengan perkataan lain ada yang membiayai mengingat perjalanan ke papua tergolong serba mahal. Ya, selalu saja ada kejutan-kejutan tak terduga dari pemilik semesta ketika seorang hamba memiliki niat untuk melihat kemajemukan ciptaan-Nya ini.

Setiap perjalanan selalu menyimpan beragam kisah. Berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya yang selalu menggunakan transportasi darat. Atau telah menjadi kebiasaan ketika hendak pulang kampung ke kepulauan Wakatobi adalah menantang diri untuk melakukan perjalanan laut dengan memakai jasa kapal laut. Sensasi yang didapatkan yakni menikmati suara angin dan ayunan ombak serta deru mesin kapal yang saling beradu padu seolah menjadi nyanyian penghibur bagi penumpangnya. Saya menyebutnya itulah seni yang diperdendangkan jika menaiki kapal laut.

Namun, kali ini ada cerita tersendiri saat mengunjungi papua yakni terbang menggunakan burung besi Garuda dan menikmati segala fasilitas yang tak saya ketemukan dalam perjalanan sebelumnya. Ada yang berbeda dari maskapai atau moda transportasi lainnya. Tentu ada kesan terpuaskan atau sebaliknya, bukan?

Sudah menjadi pemandangan dan hal lumrah di dalam pesawat dimana penumpang akan dilayani dan diperhatikan oleh para pramugari anggun dengan tutur kata halus serta sopan. Ketika memasuki pesawat akan langsung disambut dengan sapaan senyum merekah di wajah ayu pramugarinya. Barangkali itu adalah kewajiban bagi para pramugari terhadap penumpang yang menggunakan jasa maskapai tersebut. Maka tak salah jika ekspektasi saya terlampau berlebihan kepada maskapai garuda ini mengingat pada beberapa tahun sebelumnya saya pernah menggunakan penerbangan udara namun tidak mendapati  pelayanan berlebihan seperti ini. Garuda adalah maskapai kebanggaan bangsa Indonesia maka pelayanannya pun selayaknya yang terbaik.

Ilustrasi. Foto Google

Tibalah saatnya ketika para perempuan anggun tersebut menyajikan makanan kepada para penumpang. Menunya adalah nasi goreng serta ikan masak yang masih terasa panas. Entahlah, apakah makanan tersebut baru di goreng ataukah telah disimpan di tempat pemanas sebelumnya, saya lupa menanyakan kepada pramugari yang melayani waktu itu. Yang pasti garuda menyuguhkan cita rasa makanan keindonesiaan. Selanjutnya saya di tawarkan juga berbagai macam jenis minuman namun ketika saya menanyakan apakah  tersedia juga kopi hitam,  lalu sang pramugari tersebut mengiyakan maka pilihan saya langsung jatuh pada kopi hitam sebab sayalah seorang penikmat akut yang mencandunya.

Suatu  momentum langka bisa menyeruput partikel pekat di luar angkasa sana dimana hanya dikelilingi oleh gulungan awan nan tipis dan melihat hijaunya hutan dan birunya lautan negeri ini. Tentu sensasinya pun berbeda dari warung kopi yang pernah saya singgahi selama ini. Terlebih lagi yang menyajikannya adalah seorang perempuan anggun dengan senyum serta tutur kata tertata rapi. Sungguh melengkapi cerita perjalanan kali ini hingga beberapa kali guncangan yang dialami pesawat seolah tak begitu terasa.

Bagi saya setiap perjalanan dan tempat yang disambangi ada bagian kisah menarik untuk selalu dikabarkan terkadang orang tak menyadarinya saja. Bukankah tujuan menjelajah adalah untuk membagi. Dan pada bagian kali ini menikmati kopi merupakan sisi menarik yang saya lakukan. Rasa pahit amat terasa di lidah, rupanya pramugari berwajah ayu tersebut menyuguhkan saya kopi pekat tanpa gula. Seakan-akan ia ingin mengatakan bahwa secangkir kopi mengajarkan segala sesuatu ada pahit juga nikmat yang keduanya adalah berkah. Dari perjumpaan dengan pramugari itu saya juga mendapat pelajaran bahwa senyum akan selalu melahirkan keindahan dan mencipta suasana ketenangan, senyum juga mampu membawa pesan-pesan kedamaian. Serta layaknya kopi, senyum akan menularkan suplemen penguat bagi yang menikmatinya. Ah, namun yang pasti saya menyukai racikan kopi hitam perempuan anggun yang lupa saya tanyakan namanya tersebut ..

***
Diantara tegukan-tegukan gelas kopi hitam itu saya lalu merenungi diam-diam, semoga kelak bisa merasakan kenikmatan bernilai sama di atas burung besi garuda yang akan membawa saya terbang melintasi laut biru Wakatobi kemudian mendarat di kampung halaman yaitu Bandara Maranggo Tomia Kab. Wakatobi. Dalam perenungan itu saya juga berharap agar tak lagi diperuntukan untuk kepentingan pihak asing saja akan tetapi dirasakan juga oleh warga lokal pemilik tanah moyang mereka yakni warga pulau tomia. Ah, saya hanya berharap entahlah sampai kapan!!!

Catatan seorang kafeinis. Makassar, 24/02/2014 

Baca juga tulisan : 

April 15, 2013

ya! Saya Seorang Kafeinisme

Suatu waktu seorang kekasih saya pernah mengatakan "jangan terlalu mengkonsumsi kopi nanti cepat tua" dengan penuh cinta dia menyuguhkan kepada saya secangkir kopi pekat hangat yang telah ia ramu. Hingga malam semakin meninggi tepatnya di kamar kostannya kami memperbincangkan banyak hal sederhana juga ringan termasuk kopi yang katanya akan mempercepat saya menjadi tua.

Dilain waktu juga seorang teman pernah menceramahi saya. Orang yang gemar meminum kopi akan mengalami penurunan produktivitas hormon sperma, katanya sambil meyakinkan saya. Pada beberapa tempat persinggahan saya juga telah mendapatkan materi-materi ceramah semacam ini.

Sembari menuliskan tulisan ini saya sedang meneguk kopi pekat dicangkir kebesaran saya. Kehidupan yang seperti ini semakin akut saja dan menjadi-jadi mewarnai keseharian saya. Ya, saya adalah seorang kaffeinis. Penggemar kopi paling pekat sejagat. Beberapa orang sahabat saya akan mengamini hal ini. Sungguh.

Jika benar apa yang dikatakan mantan dari kekasih saya diatas adalah benar adanya. Maka cepat tualah saya. kulit-kulit saya mulai hari ini akan berkeriput dan lambat laun akan menua dalam usia yang masih muda. Atau produktivitas hormon sperma saya telah berkurang akibat menyantap kopi. Apa mungkin saya tidak akan memiliki keturunan seperti apa yang di mitoskan oleh teman saya tadi.

Tapi seseorang pernah menghampiri saya. Katanya, kebaikan-kebaikan dari menyantap kopi salah satunya adalah dapat mengembalikan kekuatan atau energi setelah melakukan hubungan intim sex bersama pasangan akibat terkurasnya tenaga. Mungkin juga ini benar, secara ilmiahnya saya juga telah lupa dengan apa yang dikatakan teman tadi.

Ada beberapa hal-hal hebat tentang kopi yang ia ceritakan pada saya waktu itu, termasuk untuk kesehatan dapat mengobati beberapa macam penyakit. saya cukup senang  mendengarnya. Namun, saya agak malas menceritakan itu semua disini karena kedengarannya bernada ilmiah dan saya tidak begitu paham atas hal itu.

Terlepas dari kebaikan-kebaikan, akibat dan segala perbincangan tentang secangkir kopi. Hal ini telah menjadi candu, tapi saya menikmatinya. Setidaknya saya sentosa atas kenikmatan rasa seperti ini. Jika kalian punya waktu mari menyeruput bersama saya yang seorang kaffeinis ini..

- Kamar kostan. mari menulis, mari menyeruput kopi pekat..

TERPOPULER BULAN INI