September 14, 2014

Sebulan Tak Pernah Menulis, Why?

Ilustrasi Google

Sebulan lamanya saya tak menggoreskan apa-apa disini. Barangkali sekedar berceloteh atau berceritra akan percumbuan dengan semesta. Ataukah kisah tentang jalan sunyi, kisah keheningan serta hal yang menjemukan telah melanda saya berapa hari ini. Pun tak ada catatan akan ikhwal yang telah merenggut tidur malam yang saya lewati.  Sialnya lagi, lirik-lirik akan masa depan tak saya perdendangkan kepada kekasihku Lidya, wanita  titipan Tuhan yang bersenyum manis itu.

Belakangan ini menulis adalah hal yang paling berat dilakukan. Yah serupa mengangkat carrier berukuran 100 liter lalu mendaki ke Himalaya dan menyusuri seluruh konturnya. Sungguh itu merupakan analogi yang sepadan untuk sebulan yang berlalu ini.

Sejujurnya ada banyak tesis yang ingin saya produksi pada halaman ini, blog yang keseluruhan isinya minim makna serta tak ada yang bernilai lebih di dalamnya. Namun jika bagi kalian ada yang menarik disini maka saya harus berterima kasih atas itu dan menyebutkan nama kalian dalam untaian doa-doa yang saya tiupkan ke langit saat ibadah jumat digelar. Sebab bagi saya apresiasi semacam itu adalah multivitamin/suplemen penguat agar tetap survive  lalu menantang diri mengembara dalam rimba imaji dan menghadirkan suatu tulisan, percayalah!

Beberapa hal menarik yang menyita perhatian sudah saya catat ke dalam buku kecil yang biasa terbawa bersamaan daypack milik saya. Namun saat menyusun dan merangkainya menjadi sebuah deskrispsi lengkap mendadak dan sekejap terhalang tembok lalu buyar tak ada yang bisa dikisahkan. Kanvas putih itu tetap suci tak ada aksara dan deretan angka di atasnya. Lagi-lagi saya menderita penyakit lama dan ini akut bersama hariku. Inkonsistensi namanya.

Ada sebab seperti yang telah saya sampaikan beberapa waktu lalu. Tetapi kali ini hal yang paling mendasari adalah tak ada tempat lagi yang nyaman untuk memproduksi semua itu  terlebih komputerjinjing milik saya itu raib entah kemana yah sedang menjalani takdirnya di tangan orang lain, duh!. Bicara tentang menulis sejatinya tak ada alasan sebab ada banyak jalan untuk memenuhi nafsu-nafsu menulis lihat saja dahulu kala orang bisa menuliskan pemikirannya pada daun-daun kurma. Apalagi sekarang banyak yang bisa dimanfaatkan seperti buku saku, gadget tablet, notes handphone atau lainnya.

Kata mereka menulis itu lahir karena ada cinta yang mendasarinya maka akan mengalir layaknya air yang selalu bermuara. Saya rasa ungkapan tersebut benar adanya. Menghadirkan tulisan disini pun karena masih ada kecintaan saya pada blog yang seluruh kandungan isinya tak bernilai apa-apa ini. Karena alasan cinta pula saya menuangkan beberapa paragraf di atas sebab seluruh catatan saya disini adalah sebagai bentuk hadiah buat anak saya kelak.


Barangkali ini celoteh atau mungkin juga curhatan tak bermakna. Tetapi ini sebenarnya untuk membunuh inkonsistensi itu sebab saya harus tetap survive dalam menulis. Ini juga sebagai jawaban atas pertanyaan seorang pengujung setia blog ini lewat pesan ia menulis “mengapa tak ada aktivitas menulis lagi di halaman blogmu” ujarnya. Dan bagi saya itu hal yang membahagiakan sebab ada apresiasi, kritikan, harapan maka akan menjadikan blog milik saya ini terus hidup.

Semoga tulisan ini sebagai pelecut untuk melahirkan tulisan-tulisan selanjutnya. Semoga pula masih dalam dekapan dan kasih pencipta langit.

- Makassar, 14/09/2014
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

TERPOPULER BULAN INI