April 06, 2021

Lubang di Jalan


Kemarin kebetulan saya nimbrung dipercakapan bersama orang-orang tua. Point penting atau gagasan utama dalam perbincangan mereka adalah mengenai keprihatinan kondisi jalanan di Tomia. Entahlah, namun mereka mengeluhkan jalanan di Tomia yang banyak mengalami kerusakan hampir pada tiap wilayah atau desa. Saya sendiri mengamini isi dari diskusi tersebut. 

 

Sejatinya sudah lama saya ingin ocehkan soalan lubang di jalan. Bukan juga karena kebetulan saya nimbrung dalam forum dengan orang-orang tua diatas tadi. Sekali lagi bukan. Jujur saja sebulan belakangan saya cukup intens keluar melintasi desa-desa atau wilayah di pulau yang mungil ini untuk mengunjungi keluarga dekat yang sedang sakit. Jadi dalam sehari terkadang dua kali pulang pergi maka tak mengherankan saya bisa merasakan dan memotret titik lubang di jalanan kampung atau desa mana saja.

Terkadang saya harus lebih berhati-hati karena pada beberapa tempat lubang-lubang itu terlihat dalam dan besar apalagi jika digenangi air membuatnya tidak nampak. ya! Siapa pun bisa jatuh umpama berkendara dengan kecepatan yang tinggi. Sangat berbahaya apalagi berkendara pada malam hari.

Oh iya! Pernah beberapa anak muda memprotes kondisi suatu ruas jalan di lingkungannya. Entahlah barangkali protes tersebut ditujukan kepada pemerintah daerah atau wakil rakyat yang terhormat. Anak-anak muda ini beberapa diantaranya adalah mahasiswa. Mereka menanam beberapa pohon pisang ditengah jalan raya pada lubang atau titik yang mengalami kerusakan yang parah. Saya tahu maksud dari aksi tersebut untuk menarik perhatian publik setidak-tidaknya simpati pemerintah daerah. Saya ingat seorang teman tadi memposting kegiatan tersebut pada status whatsAppnya.

Berbeda dari anak-anak muda ini. Saya juga pernah menemukan suatu desa yang sedang swadaya gotong-royong menambal jalan-jalan yang rusak dengan semen. Satu cara yang solutif, salut. Mereka melakukan itu hingga ke perbatasan desa sebelah. Barangkali mereka tahu bahwa tiap hari mereka melewati jalanan tersebut. Umpama mengharap perbaikan atau proyek datang dari pemerintah tentulah belum akan dilakukan dalam waktu dekat saat itu. Saya rasa bisa dicontoh daerah lain dengan menutup sementara lubang dijalan dari pada tidak sama sekali. Bukankah setiap hari orang-orang akan melintasi jalanan itu juga.

Sebenarnya jika kita melihat keseluruhan kondisi jalanan di Pulau Tomia ini sudah di lalui aspal. Namun kualitasnya minta ampun. Maksudnya sangat cepat rusak. Bahkan pada beberapa titik kondisi jalannya rusak juga walau sangat jarang dilalui oleh kendaraan semacam makan diri, entah kenapa bisa. Padahal wilayah pulau Tomia ini adalah daerah yang sangat kecil. Namun proyek-proyek pembuatan jalan selalu cepat rusak. Saya tidak tahu apa hanya saya yang berpendapat seperti ini. Oh, well rasa-rasanya tidak. Iya kan?

Dia akhir perbicangan dengan orang-orang tua tadi. Mereka menyinggung bahwa kalau dalam waktu dekat ini keseluruhan jalanan di Pulau Tomia sudah akan diperbaiki dengan kualitas yang lebih bagus dari sebelum-sebelumnya. Barangkali perkataan mereka benar sebab sudah ada kapal tongkang dengan membawa peralatan serta material pasir yang lumayan banyak. Mobil truck mulai lalu lalang mengangkut material. Kita semua berharap proyek-proyek pembuatan jalan di Tomia ini dibuat dengan sebaik-baiknya bila perlu hingga berpuluh tahun baru mengalami perbaikan lagi, mungkinkah?

Sekali lagi, moga jalanan yang melintasi wilayah atau desa-desa di Pulau Tomia dibuat dengan kualitas terbaik demikian pula dengan infrastruktur lainnya. Toh kedepan Tomia akan menjadi pusat pariwisata di Wakatobi dikarenakan titik-titik penyelamannya adalah kelas dunia dan terbaik di Wakatobi.  Namun yang terpenting orang-orang Tomia semoga dapat menikmati jalanan yang mulus tanpa lubang serta tidak cepat rusak, itu saja.

 

-          Pulau Tomia, 06 April 2021

Comments
0 Comments

No comments:

Post a comment

TERPOPULER BULAN INI