April 07, 2012

Tentang BULAN Malam ini…

Tak semalu-malu seperti kemarin. Malam ini bulan menampakan wajahnya sangat indah, cantik. Disudut beranda kostan sambil sesekali menggerogoti rokok-ku dan meneguk kopi hitam yang mulai dingin buatan tadi sore aku menikmati cahayanya. Lalu, ada masa yang selalu terekam dalam ingatanku adalah pada malam-malam dingin diteras sembilan gunung lompobattang. 

Lampu-lampu perkotaan berkelap-kelip dari kejauhan. Tentang api unggun yang menghangatkan aku kalian dan kita. Sementara ada junior-junior menggigil kedinginan ditenda-tendanya bahkan ada yang tidur diluar, nasib menjadi anggota baru.  Dibawah bayangan sinar bulan kita bercerita banyak hal hingga bulan meredup malam itu. Dulu, dalam suatu masa.

Malam minggu dikamar kosan, Menulis singkat sebelum cahaya bulan malam ini meredup.


April 06, 2012

Oh, Sepatu Gunungku

dok. pribadi
Sudah empat bulanan ini sepatu gunung yang mulai robek itu berada pada tumpukan sepatu di rak-rak  depan kamar kosan. Sudah mulai dipenuhi sarang laba-laba dan kelihatan usang, kotor dan berdebu. Begitupula dengan Ransel ukuran 80 ltr warna biru yang biasa menjadi teman paling setia berpergian kemana-mana. Carrier yang biasa memuat didalamnya matras, SB, jacket tebal warna merah dan perlengkapan pendakian lainnya itu sudah tak terawat lagi...

Andaikata bisa berbicara, mereka akan berkata pada tuan pemilik “kami sudah terlalu rindu pada kabut tipis, pada wangi bunga edelweis yang selalu berbicara tentang keabadian, ketulusan dan pengorbanan. Rindu akan triangulasi yang selalu menjadi impian para pendaki gunung walau itu bukan tujuan akhir. Pada senja yang  kadang menampakkan warna jingga walau bukan orange yang sesungguhnya. Serta belaian angin malam yang dinginnya selalu menusuk-nusuk tulang”…

Carrier, sepatu gunung, tas kecil, celana lapangan robek-robek nyaris tak bisa terpakai lagi, baju kemeja lengan panjang, gaitter dan perlengkapan pendakian lainnya sudah menjadi kawan terbaik bagi sang pemilik. Sudah terlalu banyak cerita dan kenangan yang terukir dengan barang-barang tersebut. Diantara suka dukanya, pendakian pertama gunung lompobattang yang nyaris hypothermia di pos tujuh akibat sepanjang hari dan malam diguyur hujan. Tenda dari ponco bocor, angin malam keluar masuk tenda, SB basah mengandalkan jacket yang tak bisa menahan dingin hingga terasa sampai pada tulang, sungguh tidak bisa tidur semalaman.

Cerita lainnya nyaris terhempas badai di puncak rantemario pegunungan latimojong, puncak Sulawesi. Dan masih banyak cerita lainnya yang tidak sempat digoreskan pada halaman ini. Tenanglah kawan aku sudah menyimpan rapi cerita kita dalam folder perjalanan.  Ada banyak catatan-catatan sejarah petualanganku disana semuanya menarik dan mereka perlu membacanya.

Untukmu sepatu gunung, sabar saja dulu akan ada waktu untuk kita berpetualang lagi...

April 03, 2012

Pertanyaan yang menjajah, Berhentilah Menghujat

Aku sedang dihujat dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjajah. Seperti  bumi sedang dihantam berpuluh-puluh meteor dari luar angkasa. Pada bangunan pemecah ombak breakwater yang terus-terusan dihantam oleh ombak gelombang dan arus laut. Demikian kira-kira aku menganalogikannya. Entahlah gaya-gaya yang diterimanya apakah sama dalam satuan kilogram, ton, newton atau pascal. Mungkin harus dikonversi terlebih dahulu untuk mengetahui besar nilai hantamannya.

Kalian mereka sama saja tidak juga kau, wanita berwajah sayu yang meninggalkanku pada dua belas purnama tahun lalu. Kau yang selalu berkeluh kesah pada malam-malam yang kita lewati bersama. Yang kuingat saat itu aku tidak pernah membuang air mataku karenamu itu terlalu manja dan lebay, pantangan buatku. Sudahlah aku tidak ingin membicarkanmu disini.

Tidak sedikit pula yang menertawakan serta mencerca hidupku yang menakutkan ini, miris kedengarannya. Sukses dan masa depan siapa yang tau jodoh lebih-lebih, itukan hal yang ghaib. Aku menghargai niat baik kalian tanpa terkecuali, ini bentuk lain dari cinta pikirku. Rutinitas sehari-hari seperti ini biarlah aku sedang menikmatinya.

Berjalan menyusuri kontur-kontur garis tangan yang terjal dan berubah-ubah, berbatu terkadang sesekali harus melawan badai. Dikejar bayang-bayang waktu. Aku akan jalan terus sambil sesekali berlari menghindar tergilas. Percayalah aku sedang mundur selangkah untuk awalan lalu melompat untuk sejauh-jauhnya...

April 01, 2012

Memoriku Ditelanjangi Rasa Tentangmu

Kau pernah bersuara lantang pada Tuhan lewat doa yang kau panjatkan pada-Nya dengan mimik penuh harap. "Semoga Tuhan menganugrahkan cinta yang lebih besar kepada kita jika bukan hari ini pasti esok". Akupun mengamininya. Seingatku waktu itu pertama kalinya aku mencium seorang hawa pada jumat sore dimana hujan mulai turun perlahan-lahan. Ah, kau memang menyukaiku.

Kau juga pernah meracikkan kopi hitam atau secangkir partikel hitam kesukaanku dengan formula atau rumus yang pas pada angka-angka yang terkoreksi menurut rasaku. Lalu menyajikannya di atas meja dalam kamar kostanmu, kitapun bercerita banyak hal kala itu. Zat hitam ini adalah candu buatku.  Mengajarkanku kita tentang hitam pahit manis bercampur padu dalam cangkir yang bernama kehidupan. Kau, aku bisa melihat hidup dari sisi yang berbeda, sederhana bukan.

Hal yang paling romantis adalah mengajakmu ke puncak melihat kabut tipis dan bunga edelweis diketinggian dua ribu sembilan puluhan meteran diatas permukaan laut. Kita tidak perlu memetiknya cukup memaknainya saja. Bunga yang melambangkan ketulusan, pengabdian dan keabadian. Mekarnya sepanjang masa dan tak pernah layu. Kisah kita harus seperti ini, harapmu. Malam semakin larut saja, dingin semakin menusuk-nusuk tulang. Dalam hangatnya tenda kita berpelukan hingga berakhir setelah matahari terbit diufuk timur membangunkan kita, sayang.

AH, SIAL...

Makassar Kamar kostan, Belajar menulis fiksi


 

TERPOPULER BULAN INI