July 31, 2014

Selamat Berlebaran

Semoga kita dilahirkan kembali dengan fitrah, kudus. Atas khilaf, maafkan..

July 03, 2014

Kepadamu, Lidya....

Cepat mendekatlah, Lidya. bergegas lalu duduklah disampingku pada hammock yang menggantung ini, hammock hitam tempat dimana kita biasa berkasih-kasihan membunuh malam-hitam perkotaan nan angkuh. sebab akan kuceritakan padamu kisah tentang keheningan juga damainya semesta ketika bermalam ditengah gunung sana.

oh, Lidya... tahukah engkau, kadang saat malam tiba, dingin nyaris membekukan sel-sel darahku hingga hampir saja membunuhku, merenggut nyawaku yang lemah tak kuasa ini. Alam memang lengang serta liar, berapa waktu lalu di antara jurang terjal  patahan bulu baria-gunung mulut tuhan yang kulewati, kabutnya sekali lagi nyaris menelanku dalam-dalam ke dasarnya. Perjalanan hidup meniti waktu tak perlu kita takuti seperti ungkapan serta ketakutan beberapa orang kepada kita hari itu. percayalah kematian pasti menemui kita dan bukankah  itu keniscayaan, katamu padaku. ah, aku menyukai semangat hidupmu. sungguh!

Oh, Lidya. kepadamu akan kukisahkan pula tentang bunga langka yang sedang bermekaran disepanjang patahan pegunungan yang kulewati. amat cantik, mewangi serta seolah memberi senyum kepadaku. Tak lupa pula ia menyiratkan pesan semoga abadilah kasih cinta kita kian harinya. Edelweis nama bunga itu, perlambang ketulusan, kesabaran serta perjuangan. Abadilah kisahnya pada kita. oh, semoga alam raya merestui.
 
Kepadamu, Lidya-ku... Dengarlah kisah perjalanan ini. ditengah belantara kutemukan sungai-sungai bersuara jernih dan merdu. ia adalah nyanyian semesta ditengah keheningan malam. air yang bermuara itu sebagai nafas kehidupan bagi bumi serta makhluk penghuni jagat ini. Sungguh semesta begitu baik kepada manusia namun kadang perlakuan kepadanya sebaliknya, bukan!

Lidya, aku hampir lupa bercerita akan perkampungan yang kulewati di kaki pegunungan. Kulihat bunga-bunga kopi bermekaran  pada pucuk pohonnya, begitu mewangi bersenyawa dengan udara pagi yang sejuk. Lereng gunung di sana di penuhi tanaman kopi, orang-orang bukit menaruh harapan hidup bagi bijinya.

Oh, Lidya. kau tahu.. jalanan antar perkampungan begitu sulit dilalui sebab tak ada aspal atau jalanan beton tetapi aku menaruh kagum kepada mereka akan otot-otot betisnya yang begitu kuat saat menuruni dan mendaki. Tatkala malam datang maka gelap gulitalah rumah-rumah orang-orang bukit itu. Tak ada penerangan listrik negara layaknya di kota seperti yang kita tempati sewindu lebih ini. Sungguh, tak ada penghargaan kepada petani yang telah menghadirkan minuman penuh cita rasa kepada cangkir orang kota entah itu penguasa atau bagi mereka kafeinisme yang kutau saat pagi harinya disediakan di atas meja kerjanya. Terpujilah mereka orang-orang bukit, sekali lagi terpujilah kalian para petani kopi..

oh, kepadamu Lidya kekasihku.. kelak akan kuajak engkau kesana untuk membaui wanginya kopi bercampur damainya udara pagi. ya saya janji ketika musim bunga perlambang cinta kasih abadi itu datang menghampiri. engkau harus siap saat hari itu tiba ..

April 21, 2014

Jejak Kaki Tertoreh di Lembaran Sebuah Buku



Buku Jelajah Negeri Sendiri
Satu tulisan saya

Hakikat dari perjalanan adalah untuk berbagi serta bercerita kepada orang lain entah dimana berada. Bertutur secara jujur terhadap apa yang mampu ia tangkap oleh indra penglihatan lalu mengabarkannya melalui media bernama tulisan. Saya selalu memercayai dengan menuliskannya seolah menebar benih kebaikan yang kelak akan saya semai hasilnya.

Kemarin sore, saya menerima paket dari salah satu jasa pengiriman. Bungkusan tersebut berisi buku dari salah satu penerbit ternama yakni bentang pustaka. Buku tersebut merupakan kumpulan catatan para blogger atau biasa disebut kompasianer. Ada banyak catatan perjalanan dengan sudut pandang, gaya bahasa dan berbagai pengalaman menarik tentang hal-hal unik di penjuru negeri ini yang luput dari perhatian orang banyak. Melalui buku karya para kompasianer ini akan menjadi referensi para pejalan atau siapa saja untuk melihat lebih dekat segala kekayaan serta kekhasan yang dimiliki tanah pertiwi ini.

Apa yang membahagiakan bagi saya hingga bernilai lebih dari buku jelajah negeri sendiri adalah satu tulisan saya dimuat di dalamnya. Tulisan tersebut merupakan hasil dari perjalanan saya beberapa tahun lalu saat berlebaran haji di puncak gunung bawakaraeng, sulawesi selatan. Yang uniknya saat bertemu, melihat banyak warga yang melaksanakan shalat di tengah kondisi alam yang saat itu gerimis dan tertutup kabut dengan cuaca  amat dingin. Rupanya pengalaman tersebut menarik pihak penerbit untuk mencetaknya bersama catatan perjalanan para blogger lainnya.

Dimuatnya catatan saya di buku tersebut akan menjadi pemantik untuk terus belajar menulis dan mengasah imaji yang saya miliki. Juga ingin mewujudkan mimpi-mimpi terpendam yang ingin selalu melihat lebih dekat wajah lain keindahan negeri ini lalu menulisannya. Saya selalu mengagumi serta terilhami dari ibn batutah, sang pengembara muslim ternama sejagat dimana catatan dan pengalamannya selalu menarik dan menggugah siapa saja.

Saat ini saya percaya defenisi bahagia itu seperti ini ketika tulisan kita mendapat apresiasi dari orang lain terlampau itu datangnya dari salah satu penerbit ternama. Terakhir, ucapan terimakasih kepada pihak kompasiana dan bentang pustaka yang telah memilih tulisan saya untuk diterbitkan. Saya menyukuri hal ini. Sungguh!

April 01, 2014

Saya Takjub pada Perempuan ini

Kepada perempuan yang gemar beriqra. Juga perempuan yang pantang menyerah menelusuri setapak dan rimba imaji lalu menuliskannya sebagai secercah oase bagi orang lain. Sungguh, saya menaruh kagum padanya. Duh, blog...

TERPOPULER BULAN INI